Rabu, 12 Juni 2019

Laporan Bahasa Bali Alus Madia dan Alus Singgih




BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Bahasa Bali merupakan bahasa yang menjadi bahasa daerah di Pulau Bali. Bahasa Bali ini memilikifungsi serta tata cara penggunaannya dalam kehidupan masyarakat di Bali. Dengan kebudayaan dan kehidupan masyarakat Bali yang unik, Bahasa Bali ini berkembang lagi lebih luas. Dalam penggunannya, Bahasa Bali dapat dibagi menjadi menjadi 3 jenis, yaitu Bahasa Bali Alus, Madia, dan Kasar. Alasan adanya pembagian Bahasa Bali ini tentu karena ada banyaknya golongan-golongan masyarakat yang tinggal di Bali. Berdasarkan ketiga pembagian tersebut juga, Bahasa Bali Alus merupakan bahasa yang memiliki penggunaan luas dalam praktiknya. Berdasarkan kehidupan masyarakat di Bali yang unik, Bahasa Bali Alus ini dapat dibagi lagi menjadi beberapa bagian yang lebih spesifik dalam fungsinya, yaitu Bahasa Alus Singgih, Sor, Madia, dan Mider.
Berdasarkan pembagian itu, Bahasa Bali Alus Madia dan Singgih merupakan bagian Bahasa Bali Alus dengan fungsi yang istimewa dan strukturnya yang berbeda dengan Bahasa Bali Alus lainnya. Berdasarkan itu, makalah ini dibuat dengan tujuan untuk membahas bagaimana bentuk Bahasa Bali Alus Madia dan Singgih. Bagaimana pengertian, penggunaan dan contoh Bahasa Bali Alus Madia dan Singgih dan beberapa perbedaan dalam kedua jenis bahasa tersebut akan dibahas dalam makalah ini.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang makalah ini, ada beberapa rumusan masalah yang dapat ditemukan  :

1.      Apa pengertian Bahasa Bali Alus Madia dan Singgih ?
2.      Bagaimana contoh kata dan kalimat dari Bahasa Bali Alus Madia dan Singgih ?


BAB II
PEMBAHASAN
            2.1       Kruna Alus Madia (Ama)
         Kata Alus Madia adalah kata alus yang rasa bahasanya madia (menengah), yang pada umumnya digunakan dalam berbicara pada seseorang yang belum dikenal, pada seseorang yang hubungan keakrabannya belum begitu akrab. Kata alus madia berdasarkan bentuk dan rasa bahasanya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1.      Kata alus madia yang memang rasa bahasanya alus madia.
 Contohnya:
·         sirah 'kepala'  (Sirah tiangé sakit ibi sanja).
·         sirep 'tidur'  (I Bapa kari sirep di baléné).
·         ngajeng 'makan'  (I Meme ngajeng biu di paon), dst.
2.      Kata alus madia yang berasal dari kependekan bentuk alus yang lainnya.
           Contohnya:
·      ten 'tidak' -> kependekan dari kata nénten (Tiang ten maan kema).
·       tiang 'saya' -> kependekan dari kata titiang (Tiang ten polih merika).
·      ampun 'sudah' -> kependekan dari kata sampun (Tiang ampun polih jinah).
·      nika 'itu' -> kependekan dari kata punika (Tiang nika sané ngambil).
·      niki 'ini' -> kependekan dari kata puniki (Baju niki ané anggona).
·       sira 'siapa' -> kependekan dari kata sapasira (Sira sané ngambil ayamé?).
·      napi 'apa' -> kependekan dari kata sapunapi (Napi sané ngutgut jajané?), dst.


            2.2       Kruna Alus Singgih (Asi)
         Kata Alus Singgih adalah kata alus yang pada umumnya digunakan untuk menghormati seseorang yang patut dihormati.
            Contohnya:
·         séda, lebar, lina  'meninggal'  (Ida Peranda sampun séda/lebar/lina). 
·         ngaksi, nyuryanin 'melihat' (Ida sané polih ngaksi paksi ring taman).
·         ngandika 'berbicara'  (Titiang nunas mangda i ratu dumunan ngandika).
·         mobot 'hamil'  (Rabinida mangkiin sampun mobot)
·         makolem 'tidur'  (Ajinida kantun makolem ring gedong).
·         sungkan 'sakit'  (Ida kantun sungkan).
·         maputra 'punya anak' (Arinida ring Jawi mangkin sampun maputra).
·         marayunan 'makan'  (Ida kantun marayunan ring perantenan ipun).
 ·         ica 'tertawa' (Ida makasami ica mirengang ipun).
 ·         mabaos 'berbicara' (Ida mangda polih mabaos dumun), dst.

BAB III
PENUTUP
3.1.            Simpulan
           Dengan kita mempelajari 2 dari kruna ini, yaitu kruna alus madia (Ama) dan kruna alus singgih (Asi), kita lebih tau cara berbicara bagaimana menggunakan bahasa bali yang baik dan benar sesuai dengan kasta atau tingkatannya.
3.2.            Saran
         Kita sebagai generasi muda, harus tetap melestarikan budaya daerah asal kita yaitu budaya Bali. Seperti bahasanya, supaya kita lebih tau bagaimana berbahasa dengan orang-orang disekitar kita dengan baik dan sopan.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda